sketsa

goresan pensil itu mulai pasti

seolah menirukan objek didepannya

kurang lebih sama

menciptakan objek yang bercerita

..

entah bagaimana seisi jika dunia dibuat karikaturnya

mungkin sama dengan sketsa tuhan dulunya

hanya beda di kesempurnaannya

goresannya mungkin tak lagi ada

sempurna bak digambar tangan dewa

..

kuingin pula menggambar sketsa masa depan

memprediksi kejadian

diatas secarik kertas di tangan

mungkin sambil menatap bulan

membayangkan keadaan

..

semua goresan itu akan menceritakan

mewakili tangan

mewakili pikiran

 

 

tetesan inspirasi

aku terinspirasi

seperti bumi yang terguncang dengan petir terjadi

melihat orang-orang hebat ini

seringkali berharap tuk manjadi sama

bak rumput gersang yang iri pada tulip yang berwarna

..

indah berwarna, segar bercahaya

perumpamaan yang serupa

orang-orang hebat itu dulunya sama saja

manusia biasa

tapi jalan yang ditempuhnya sangat luar biasa

..

membuat mereka terus berkembang

bak tulip yang kian mekar

semakin menarik perhatian kita

jalan hidupnya menginspirasi dunia

membanggakan untuk dibaca

..

ingin sekali aku tau cara pikir mereka

cara mereka berusaha

cara mereka memenangi itu semua

kegigihan yang tanpa ara

aku ingin tahu cara mereka menggenggam dunia

 

berpaling

cerita lurus menjadi saksi

kisah dengan mudahnya pergi

bisikan itu telah berdiri

mungkin ini yang namanya janji

janji yang keji

..

seolah terdampar di daratan mati

tak berpenghuni

sakit itu menyiksa diri

aroma busuk dikhianati

tercium hingga ke ujung bumi

..

dasar kau tuli

tak bisa mendengar kata hati

dibuat buta oleh merahnya api

gelora palsu itu takkan abadi

api itu akan membasuh diri

hati dan cerita

entah harus bersikap apa

aku lelah dengan mereka

malas rasanya

merasa bermasalah dengan saya?

terus kenapa

..

apa susahnya menerima yang ada

ikhlas tanpa tanya-tanya

menjebloskan pikiran buruk yang ada

hilangkan itu semua

itu membuatku tertatih tanpa jeda

terbaca

konsep itu tertanam

tak pernah ku sunting dengan dalam

membuatku terdiam

tak pernah lagi merasakan asam garam

ku unduh pemikiran kelam

..

latar belakang menjadi buram

tak ada yang digunakan dengan tajam

pikiranku menjadi keram

kebaikan tak bisa lagi ditanam

hatiku ingin kusulam

noda bersih

mempermainkanku dengan tulus

terucap indah dan bagus

kata yang begitu saja terbungkus

membuat dunia tak lagi tandus

..

walau itu tak lagi benar

tapi itu membuatku belajar

memang sulit tuk jadi orang besar

meraba arah sinar

..

seberapa jauh ku melihatnya

kuteropong dengan pasti adanya

kupikirkan langkah pasti meraihnya

langkah pasti tanpa lagi meraba

..

aku berterimakasih pada sang pembohong

yang membuat hatiku terdorong

 

 

 

 

senyum itu tersirat

menanti senyum datang

bak di pantai menanti beruang

seakan takkan pernah datang

sejauh bintang

..

senyumannya begitu mahal

tak bisa dijual

yang tulus tak berbual

seperti intan dari bukit terjal

..

tak terjamah

senyumnya yang indah

permata yang tak mungkin pecah

terus memukau mata yang terarah

..

kuingin senyummu menemaniku

hingga tahun keseribu

aku bertahan untuk dirimu

aku menyayangimu

..

tuk sekarang dan selamamanya kau adalah milikku

dan ku ingin kau selalu tersenyum untukku

..

#i love u

ketukan malam

bersandar pada jendela tua

menatap ke luar sana

bunyi-bunyi mencurigakan terlaksana

bak cekamnya kuburan cina

..

gelap seolah menjadi tameng pencerita

fokus dan kendali tiada

terpaku pada satu titik fana

jantung berdetak tanpa nada

..

ketika sepi bukan hal asing lagi

malam mengetuk pintu terlarang bumi

hidup yang mati

nyawamu tercecer tak terjamah

hatimu berdebu layaknya tanah

tak ada lagi jiwa membakar raga terarah

tak ada lagi cerah

semua menjadi salah

..

bosan bernafas

hati menjadi panas

buas..

layaknya daun talas

layu dan mati tanpa pentas

..

korban dunia

yang memang tak lagi pantas tuk berada

manusia itu tersisih daripadanya

bak debu yang tertiup angin tertanda

hilang entah kemana

terjadi sendiri

kuberikan tahta

kusandarkan padanya mahkota

tanpa banyak berkata

bak kelelawar yang buta

di tengah kegelapan yang rata

..

goresan cahaya mempermainkanku

membuatku terpana membisu

ku ingin menggenggam cahaya itu

hatiku yang dulu sekeras batu

layaknya es yang meleleh tanpa ragu

..

inilah jalan indah yang tersaji untukku

kuperjuangkan dengan seru

dan kuberikan mahkota itu

aku pemuja dirimu

takkan lekang oleh waktu

pencuri kejadian

menenteng lensa

yang aku sebut mata ketiga

menangkap momen yang ada

dengan kilatan cahaya

..

aku mulai suka ini semua

layaknya bayi yang baru melihat dunia

penuh tanda tanya

penasaran akan semua

..

daya tarik dan seni yang luar biasa

memadukan apa yang ada

gelap dan terang  bak damai tertanda

berbeda setiap sudut pandang yang ada

kubungkam cerita

apa yang kau bisikan saat aku tak ada

apa yang kau ucapkan dan itu kurasa

janganlah mengada-ada

aku tau yang kau bisikan tentangnya

..

sekejam itukah kau merusak hidupnya

mungkin kau hanya tertawa

dan merasa bahwa itu bercanda

sadarlah,  jangan berdusta

..

aku tau apa yang tak kudengar

aku merasakan dengan sadar

dan itu mungkin tak benar

kau mencari masalah besar

..

aku mungkin baik-baik saja

tapi, entah dia

bisakah kau berhenti bertanya

berhenti mencampuri urusanku dengan noda

..

aku mungkin diam saja

menatap tajam, bak buaya di rawa

siap menerkam tanpa rasa

menggigit sebelum ada dosa

terbang bak elang

berdiri di awang-awang

langit pun kuterawang

imajinasi yang ada membentang

kuingin terbang

..

meraih awan nan putih

bergumul bak busa bersih

semua ini ingin kuraih

aku takkan pernah tersisih

..

aku ada untuk berlari

aku ada untuk bermimpi

dengan sayap di diri

mental tak tertandingi

..

ku takkan pernah berhenti berlari

hingga tubuh ini takkan lagi bisa berdiri

karena ku punya mimpi

dan itu akan terjadi

keselarasan

ketika kita merasa sama

tak ada lagi namanya beda

berjalan beriringan bersama

dengan tersenyum dan tertawa

..

seolah rasa ini tumbuh tiada tara

senyum ini ragu tuk berhenti disana

dititik aku merasa ada

merasa penuh gelora

..

menunggu waktu yang tepat

sebelum matahari terbit dari barat

‘aku tak lagi tersesat’

dirimu telah terpahat

kilauan emas

kuintip mata, menatap segala

aku terjatuh dan sepi tak ada

hanya cahaya

yang kulihat dan menyapa

..

ku tak lagi sadar

tak lagi merasa benar

aku ingin merasa sejajar

dengan cahaya yang tersinar

..

kilauan luar biasa terpantulkan

aku ingin disana merasakan

penantian akan keindahan

kilauan emas yang bertahan

..

membuatku ingin disepertikan

sang cahaya dengan jantan

 

tak sengaja lupa..

Hari ini aku merasa buruk, seolah sang surya tak lagi menyinari bumiku ini, ‘Kelam’ itu yang kurasakan sekarang.

 

Di kampus aku melangkah seperti tak melangkah, ku tak peduli lagi sekelilingku. Kepalaku berat, mataku sudah jenuh, tak sanggup lagi aku.

 

Parahnya sekarang ada mata kuliah kalkulus, isi kepalaku sudah berputar membayangkan bagaimana bisa aku berpikir? tapi, ya sudahlah aku sudah di depan pintu kelas ini. ‘tok tok tok’, ‘ya, silahkan masuk’ ujar dosen kalkulusku. Aku langsung duduk di kursi terdepan(bodohnya), sepuluh menit pertama aku masih tahan dan mengerti dengan angka-angka yang aku lihat, beberapa waktu berlalu angka itu seperti berubah menjadi not-not balok di kepalaku, aku hanyut, dan kepalaku tak bisa lagi melawan gravitasi bumi, tertidurlah dengan kepala tertunduk dan pena tergenggam di tangan, seolah sedang menulis dengan serius(haha). Sekejap, aku pun terbangun dari dunia mimpi, dan ternyata kuliah akan segera berakhir.

 

Tak sabar ku melangkah ke luar pintu dan berlari menuju tempat motor-motor berkerumun. ‘wah, mana motorku?’ ucapku dalam hati, aku cari-cari kesana kemari, aku kelilingi tempat parkir itu, aku mulai was-was, 10menit berlalu kukelilingi tempat ini, dan ‘TAK ADA’ tak bisa lagi ku berpikir, aku terpaku dalam keadaan berdiri, dengan kunci ditanganku yang hampir jatuh, tiba-tiba ‘adimas!!!!!’ teriak joko(nama samaran), temanku langsung berlari menghampiriku, mengajakku tuk makan siang di kantin.Ku sejenak terdiam, kukatakan ‘motorku tak ada’ dengan nada pasrah, kepalaku tertunduk. Temanku malah tertawa ‘Ahahahahahaha’ puas sekali sepertinya, kutanyakan ‘mengapa tertawa?’, ‘dimas motormu diparkir di depan, aku melihatnya tadi pagi’ ujarnya. Kami pun tertawa terbahak-bahak, ‘konyol sekali aku’ pikirku dalam hati, akupun mengucapkan terima kasih dan izin tuk pulang terlebih dahulu. Berlari ke depan ATM dengan secepat-cepatnya, melihat motorku terparkir dengan indahnya, aku pun tersenyum dan berkata dalam hati ‘maafkan aku B’silver’, aku melupakanmu. Sekejap kunyalakan motor ‘breeeeeemmmmm’, dan aku pun beregas meluncur pulang ke rumah, sepanjang perjalanan aku terpikir ‘saat ini baru ku tahu begitu berharganya dirimu yang telah menemaniku, sebagai kaki keduaku, dalam suka-duka 3tahun ini’ dan ku terus tersenyum sepanjang perjalanan.

Itu dia penampakannya :), my B’silver

pagar kapas

hati ini rapuh

lutut tak lagi mampi menopang tubuh

aku bertaruh

semua ini akan runtuh

mental payah tak mampu bersimpuh

..

mental ini dipagari hati

dipagari diri

tapi aku merasa saat ini

pagar itu bak kapas yang hancur begini

terbang lenyap dari sini

..

mental kalah

pecundang terarah

layaknya api yang basah

mental payah

takkan pernah berubah

..

#sedikit ungkapan, dariku

proyeksi cahaya

ketika kaki ini melangkah

tak diberikan arah

maka hancurlah

karena ini bukan undian berhadiah

..

disini tak ada keberuntungan

yang ada rencana di tangan

yang menunggu tuk direalisasikan

bukan seperti dadu yang ditahan

..

rencana menentukan langkahmu

dan langkahmu menentukan hasilmu

bukan asal melempar dadu

berfikirlah dan buat mata tertuju

..

berlari meraih cahaya

karena langkah tersusun tak hingga

tanpa ada masa

penuh rencana

..

dan takkan hilang arah

karena matahari telah menuntun dengan indah

 

 

asa

khawatir

mata pun mulai berair

gelisah seperti akan dihujam petir

menanti takdir

..

entah harus bagaimana

tak menentu tak bersuara

sembari menatap lurus ke  jendela

penuh harap dan asa

..

tujuan cadangan seakan menjadi jawaban

ketika mimpi terbang ke awan

digenggam, terangan

penuh keabadian

..

suatu saat kan jatuh ditangan

benarnya kenyataan

ketika asa bangkit dan berjalan

menggapai yang tak tertahan

..

aku tak ingin hidup seribu tahun

hanya tuk menunggu berlian turun

..

cukup berikan aku beberapa waktu saja

dan nyata itu semua

..

dengan tanganku sendiri

aku disini berlari

menggenggam berlian dengan pasti

dengan hati di diri ini

 

coretan mimpi

aku disini berjalan mencari nama

tertatih dengan lilin dan cahayanya

cahaya redup bermimpi rasa

tak padam tak berasa

..

panasnya tak membakar

merahnya menahan angin yang menjalar

terpatri tanpa lelehan besar

berdiri tanpa pagar

..

mimpi ini kecil tapi tak biasa

kan kugapai hingga kaki tak terasa

sembari kutenteng cahayanya

redup memang adanya

..

tapi terus merah membara

tanpa padam oleh masa

kering

jiwa ini terbakar hangus

jiwa ini tandus

layaknya padang pasir di garis equator

tanpa air tanpa tanaman

tak ada penghias

tanah tak berias

walau bisa terlihat indah

walau bisa dibilang wah

tapi kering mematikan

menyesakkan

tanpa harapan

kedinginan di bawah mata bulan

ditekuk panas matahari tak tertahan

luar biasa kering

tak terbanding

..

#aku butuh setetes air

#air yang bukan air

rindu

aku disini

menanti sepi

berharap dia melihat ini

puisi rindu yang terjadi

..

sekelam malam tanpa bulan

gelap layaknya dasar lautan

hati ini yang bertahan

karena nikmati keadaan

..

dasar aku tak sadar

yang kukatakan gelap tanpa sinar

ternyata dia disana tertutup cadar

dengan berbinar

..

hanya karena tak terlihat

bukan berarti tak terpahat

di hatiku selalu ada tempat

untuk dia yang tepat

ku berjanji

tebusanku pada hari kemarin

yang kujanjikan

yang kupastikan

bukankah telah di tangan?

walau itu berat tuk diberikan

jika aku telah berjanji

hingga bumi menjadi datar di sini

hingga matahari menggapai malam dini hari

hingga laut merebut daratan dengan pasti

dan walaupun Dia mengawasi

demi jiwa yang terisi

itu takkan kuingkari

masa lalu

memeluk malam dengan rindu

menatap tak tertuju

membayangkan masa lalu

suram

kelam

tak ubahnya perih

dengan belati menancap di hati

seperti teriris celurit di nadi

tak hiraukan lagi

aku memang rindu malam ini

tapi bukan ini

masa lalu yang di sini

kupikirkan nanti

hati ini masih ingin hidup dan terjadi

tak usahlah begini!

mungkin lain hari

saat ku siap berdiri dengan satu hati

tanpa topangan ranting kayu yang rapuh ini

di diri

entahlah..

sesekali

pasti bosan melihat pagi

bosan merasa hal yang sama berulang kali

jenuh tuk menghadapi

..

untuk itu

sulit tuk hidup sama tak tertuju

rutinitas bak kosong nya buku

lembar dan lembar, terus begitu

..

tak ada warna

lantas harus bagaimana?

haruskah keluar dari rutinitas yang ada?

apakah kita terikat itu semua?

..

coretlah tinta dengan keberanian di dada

tidak sama dengan yang lainnya

berikan warna pada buku kosong di depan mata

percayailah itu semua

 

kasta

batas asa dan keturunan

tak bisa ditentukan

terima yang kau dapat, dan bertahan

itukah takdir tanpa bantahan?

..

semua orang berharap tanpa dengan

dilahirkan di kasta yang tak tertahan

tidakkah mereka mengerti dengan jantan

pembatas ini adalah setan

..

haruskah dunia menjamin itu semua

haruskah pemisah itu ada

tak sadarkah, dengan apa

terjadilah bencana karena pemisah dunia

..

yang tertinggi yang menang

berarti mereka dilahirkan untuk menang?

tanpa tertantang?

itukah yang diharapkan untuk senang?

..

pikirkan yang terendah

mereka dilahirkan tuk mencium tanah

hanya diizinkan tuk kalah

hingga mereka menangis darah

..

hukum yang payah

tidakkah itu akan terjamah

sadar, akan ada yang bangkit dari tanah

yang terendah akan berjuang dengan darah

..

aturan bodoh itu akan musnah

jaminannya nyawa yang tak kalah

mereka akan terseok-seok terbaring di tanah

semangatlah

heran

melihat mereka tertawa

padahal disampingnya meneteskan air mata

melihat mereka menghina

dan merusak mimpi yang lainnya

..

angkuh layaknya dewa zeus di yunani sana

serasa fir’aun di mesir terbata

padahal mereka bukan apa-apa

hinaan mereka hanya menutupi apa yang ada

..

dan siapa bilang aku tunduk padanya

siapa bilang aku takluk padanya

aku sama sekali tak takut padanya

mari bersaing, kawan lama

tak taulah ini apa

aku kesal, aku murka

melihat orang tak punya hati

sopan santun dan etika

aku mengomel sendiri

tidakkah mereka belajar peka

merasakan apa yang orang rasa

bukan hanya pakai logika

belajarlah merasa !

orang-orang itu membuatku rendah

serasa mereka yang tertinggi

entahlah

aku tak begitu peduli

aku berusaha memberitahu

kau hidup di dunia semua orang pun hidup

janganlah merasa istimewa

..

sedikit ungkapan dari penyair murka

 

 

 

 

nilai

inikah yang siswa-siswa perebutkan

angka yang memang menentukan

tapi apa itu yang hanya menjadi tujuan

salah menjadi benar, seakan buta pikiran

..

dibawa kemana ilmu dan pendidikan

tanpa dikejar dan tertahan

angka itu telah mengalahkan

sang raja dengan menyakitkan

..

angka menjadi saksi bisu perkelahian

nilai atau ilmu yang diperjuangkan

entah siapa yang bisa disalahkan

sistem atau pendidikan

..

ya, aku hanya bersenandung tanpa akan

karena aku melakukan seperti yang mereka lakukan

 

belajar

belajarlah memahami

jika itu harus dipahami

belajarlah mengerti

jika itu harus dimengerti

..

belajarlah melihat keadaan diri

menilai  pikiran dengan hati

pandai melihat situasi

pintar memposisikan kondisi

..

tak peduli

karena hasil masalah nanti

yang penting usaha ini

membawamu pada impian sejati

..

karena impian bagai savana di gurun gobi

fatamorgana yang nyata dan terjadi

suntuk

mata lelah terkantuk

kelopak mata serasa suntuk

ingin menutup dengan tanpa terbujuk

dan nyata ditinggal terpuruk

..

mimpi mulai terbentuk

entah itu mimpi baik atau buruk

bagai gelap malam yang tunduk

padamu  sang penakluk

semangat pagi

menikmati pagi

sambil ditemani secangkir susu hangat ini

merasa damai

merasa hangat di diri

..

kutatap langit diatas bumi ini

belum tampak sang matahari

tapi cahayanya mengintip di ufuk bumi

seperti tak sabar ingin menampakan diri

..

sepertinya waktunya aku harus pergi

pergi ke dunia memperjuangkan hidup ini

melangkah dengan pasti

menggapai asa menggapai mimpi

menanti

Dikala kuingin pergi

hujan terjadi, dan akupun menanti

menanti sang awan berbaik hati

dan matahari mengganti dengan cahaya berseri

..

dia membasahiku disini

dia membuatku dingin tanpa tapi

membuatku tak enak badan sendiri

merinding diri ini

..

tapi aku tak tau bagian lain disini

yang justru menanti hujan yang tak pasti

dengan harap di hati

memangnya aku hidup sendiri?

maaf, aku tak tau diri

 

metropolitan

gedung bertingkat terpampang begitu banyaknya

dinding kaca menambah kemewahannya

orang berburu tuk datang kesana

berburu rupiah setamak raja

..

metropolitan membuat orang menjadi gila dunia

tata krama tak ada artinya

sopan entah kemana

hilang tertutup rakusnya jiwa

..

malam semakin membuat mereka gila

gemerlap lampu malam menutupinya

tidakkah mereka merasa

itu bukan bahagia

..

walaupun tidak semua

kebanyakan memang begitu adanya

udara

partikel hampa penuh rasa

masterpiece sang pencipta

tanpanya kita tiada

tidakkah manusia menyadarinya

..

bisa apa kita tanpanya

tak ada udara, tak mungkin api menyala

tak ada udara, air takkan pernah terasa

tak ada udara, takkan ada nyawa

..

tak ada nyawa, tak ada kita

apa nyawa akan mendusta?

kita bergantung padanya

buatlah diri kita pantas untuk menerimanya

 

 

balap

saat deru mesin menggaung

deretan kendaraan siap bertarung

pengemudi mematung

menunggu hijau yang menggantung

semua bersaing tanpa ampun tanpa bingung

yang terdepanlah yang meraung

..

adrenalin terpacu tersambung

emosi meluap membumbung

saat puncak podium masih terkurung

laksana puncak gunung

gengsi dan harga diri terbang bagai burung

berebut asa meraih puncak gunung

 

 

dawai senja

kusandarkan diri pada pohon kelapa

menatap gurat pasir yang terseret air di pinggir sana

memang indah pesisir pantai kita

angin semilir menggetarkan jiwa

..

kulihat matahari mengakhiri hidupnya

seolah hilang ditelan samudera

memang luar biasa

ya, inilah dawai senja

 

programming

seni indah pemikat jiwa

susunan dengan bahasa

algoritma pembentuknya

kode yang menjadikannya ada

..

tuts keyboard ditekan dengan seksama

merangkai kode layaknya kata

programming sebutannya

teka-teki penuh nada

 

sakura

daun merah muda

datang disaat musim berbunga

pohon-pohon berjajar rapi membahana

didatangi manusia setiap masa tanpa bosannya

hanya untuk melihat indahnya merah muda

merasakan tentramnya cinta

menikmati udara sejuknya

sakura benar-benar sempurna

tas baru

dibalik batu

anak kecil sedang murung dengan kepala tertunduk lesu

menggenggam tas sekolahnya yang lusuh oleh waktu

dia merengek kepada tuhan dengan membisu

membisikan kata ‘aku ingin tas baru’

..

ternyata ibunya mengintip dibalik itu

terenyuh melihat anaknya seperti itu

sang ibu sempat meneteskan air mata haru

lalu menggebu menghampiri anaknya yang masih membisu

memeluknya layaknya ibu

..

ibu berbisik ‘akan ibu beli tas baru untukmu’

‘terimakasih ibuku tersayang’ ucap anak itu dengan merdu

‘tapi mungkin kau harus menunggu’ ibu tertunduk lesu

si anak tersenyum dan menghampiri sang ibu

dan berbisik ‘ aku sayang ibu’

puisi hitam

tersiksa

tanpa inspirasi seolah hampa

tak terpikir dan tak terasa

merasa tak bisa apa-apa

memaksa pikiran tuk mengolah kata

..

jiwamu dimana?

jiwamu yang luar biasa

jiwamu yang bisa berkata-kata

jiwamu yang bisa menulis dengan cinta

jiwamu yang handal menejemahkan bahasa hati menjadi kata

..

mati atau apa?

bangkitlah dan mencoba

rangkai dengan penuh rasa

hayati kejadiannya

dan biarkan dunia melihatnya

senyum

senyum di bibir

sejuk bagai bunga tulip yang berair

melelehkan hati menjadi cair

meredam amarah yang mencibir

bak api dipadamkan air

itulah takdir

bagi sang ekspresi tanpa akhir

gundah di hati

gundah

penuh rasa bersalah

jiwa mati penuh darah

tanpa asa tanpa arah

..

gundah karena salah

kata maaf tak mengobati yang sudah

terkubur dalam tanah

butuh lebih dari sekedar maaf tanpa salah

bahasa indonesia

bahasa menjadikan kita berbeda

dan bahasa yang membuat kita sama

bahasa memiliki arti terdalam bagi semuanya

apalagi yang mencintainya

hayatilah bahasa yang dipunya

lestarikan pada generasi selanjutnya

agar tak punah dimakan masa

tetap setia berjaga

walau bahasa kita memang banyak yang berbeda

bahasa indonesia membuat kita sama

aku cinta bahasa indonesia

berubah

dahulu surat menjadi penyampai berita

tukang pos yang menyampaikannya

sekarang alat kecil dengan tombol yang menggantikannya

dahulu perangko menjadi syaratnya

sekarang pulsa andalannya

dahulu butuh dua hari tuk sampai ke tangan sang penerima

sekarang tak butuh satu menit tuk mengirimnya

dahulu aku menulis pesan dengan tinta

sekarang aku hanya menekan tombol tuk menjadikannya

kurasa

alat kecil dengan tombol itu merubah semuanya

merubah cara saya

amarah

mata penuh amarah

saat emosi datang bergelimpah

pikiran tertutup tanpa arah

hatinya seperti kayu yang terbakar parah

..

tidakkah dia mengerti sejarah

emosi hanya memperburuk yang sudah-sudah

tidakkah terpikirkan sekecilpun biji zarah

menjadi sebesar gajah jika secuil emosi datang tanpa terbantah

..

terserah

jika memang yang diinginkan sumpah serapah

berganti baju

putih

simbol yang katanya suci bersih

seolah telah mati tertindih

kelak noda hitam menghabisi putih

dibantai hingga tertatih-tatih

mati menahan perih

..

indonesiaku

akankah kau berganti baju

merah putih penuh rindu

dibawa oleh tandu

putih digantikan hitam dengan membisu

haruskah begitu?

penulis tanpa tinta

menulis tanpa pena

tanpa kertas

tanpa lelah merangkai kata

menulis dengan rasa

sejuk dihati, di jiwa

..

tak peduli apa yang orang rasa

hanya mencoba berbagi rasa

tak kenal waktu

tak kenal tempat

penulis tanpa tinta

selendang abu

wanita tua menghadap ke pintu

dia nenekku

menatap dengan tatapan syahdu

pandangan kosong penuh ragu

tak menentu membelenggu

..

aku datang membisu

dia menatap halus wajahku

aku tersenyum karena dia begitu

dia memakai selendang abu

bahagia aku, karena itu selendang dariku

..

nenekku tersenyum kearahku

seperti senyum ibu

lantas berkata dengan merdu

‘nenek bangga memiliki kamu’

membuatku malu

Kata

apa itu kata?

bukankah itu hanyalah kumpulan huruf tanpa cara

simbol yang diciptakan nenek moyang kita dengan terbata-bata

..

aku baru sadar, bahwa aku menyukainya

karena kata dapat berbicara

kata mengucapkan apa yang tak bisa diucapkan kita

..

kata dibuat sesuka hati kita

begitu bahagia

untuk manusia perangkai kata

..

kata adalah seni terindah yang ada

antara estetik dan keselarasannya

demi kata aku berbicara

penyampai berita

disaat cahaya matahari telah tinggi bercahaya

kulihat kakek tua mengayuh sepeda onthel tanpa rasa

dengan kaki telanjang dan baju lusuhnya

di belakang ada tas besar, tak tau apa

..

dia datang ke rumah-rumah dengan bersahaja

menyampaikan surat dengan bahagia

gurat tua di wajahnya

tak menutupi senyumnya

..

dialah pejuang penyampai berita

tergilas

kuperhatikan hidupku

seakan tak punya waktu

membuat pikiran berseteru

..

aku ragu

sang raja waktu tak membagikannya untukku

atau memang begitu?

..

raja waktu

dengan waktu, aku ingin bersatu padu

bukannya tergilas bom waktu

embun yang membeku

pagi telah menuntaskan mimpi

kutatap teratai di danau messi

terasa dingin di diri

terasa dingin di hati

oh, teratai pagi

butiran air terlihat menyatu tanpa basa-basi

bagai embun yang membeku tanpa diakhiri

lambat tapi pasti

mematikan jiwa ini

haru biru pagi ini

hijau

ketika alam telah kecewa

karena hijau telah tiada

dihancurkan manusia

tanpa rasa

mereka merasa tak tahu apa-apa

itu dusta

aku rindu, hijaunya dunia

mimpi

malam mulai lelah

mata pun menyerah

semua orang tertidur lelap tak berkerah

mereka semua bermimpi dengan indah

nikmatilah

tapi bagi pemuja fatamorgana

mereka ingin hidup di dalam mimpinya

merasakan semua tercapai dengan mudahnya

itulah virus berbahaya

Hei, bangun kawanku

bangunlah dari mimpi indahmu

itu hanyalah bayang-bayang semu

janganlah kau tenggelam disitu

Bangun kawan, perjuangkan mimpimu

kau akan tersenyum, saat itu nyata dalam genggamanmu

kucing jalanan

kita merindukan sang pemimpin yang jiwanya tak mati

pemimpin bijaksana dan memiliki hati

untuk indonesia kita sendiri

bagi indonesia

kita tak butuh sampah untuk jadi pemimpin kita

yang hanya ingin mengeruk keuntungan semata

tangan kotor yang memungut rupiah dengan mudahnya

tanpa ada rasa bersalah di hatinya

tak ubahnya seperti kucing  jalanan

mengais, mencuri, tanpa beban

sampah jalanan

bidadari

saat pelangi berbagi warna

saat pagi memberi kesejukan

saat bulan memperlihatkan kelembutan

dan saat bintang bersinar layaknya intan

……………………..itulah sosok bidadari dalam hidupmu……………………..

dia memberikan warna

dia memberikan kesejukan di hatimu tuk selamanya

penuh kelembutan

menyinari langkahmu, menyusuri dunia

……………….

hatinya bercerita dan  jiwanya bercengkrama dengan kita

terikat karena bahagia

bersama selamanya

samurai tumpul

kulihat indonesia

mulai bangkit dan berjaya dengan gagahnya

menjajaki dunia diatas dunia

tapi kulihat kembali sejenak

generasi pejuang kita

pejuang kemajuan indonesia

seperti samurai tumpul

yang tak bisa membuktikan ketangguhannya

ketajamannya

pada dunia

gelap

hitam pekat, penuh rindu

cahaya gelap yang menggebu

bermain antara ruang dan waktu

kuingin gelap menjadi saksi bisu

karena cahaya menghilangkannya dengan terburu-buru

atas nama terang diatas langit biru

sepi

merasa sendiri, tak ada arti

hasrat telah hilang, terkubur di bumi

tanpa ada yang menemani

aku merasa hampa di hati

dan sempat berfikir tuk tak peduli

tapi, haruskah aku tetap begini?

tidak, ternyata dia ada di hati

selamanya, ku takkan pernah merasa sendiri

aku berjanji

celurit mati

perusak di bumi

bagai manusia tanpa hati

merasa tak peduli

merasa angkuh, tak tau diri

kehidupan ini serasa milik sendiri

memang dasar manusia

tajamnya pikiran tak digunakan sebaik-baiknya

tajam dan mematikan

merusak segala yang ada, dengan kepintarannya

padahal mereka hanya menutupi kebodohannya

tajamnya pikirannya, hanya sampai disini

bagai celurit mati

Matahari dan bulan

memenangkan cerahnya

mengabadikan cahayanya

matahari dan bulan, beradu di peraduannya

gelap-terang begitu seterusnya

ketika pagi datang, matahari meminang bulan dan menggantikannya

bulan pun merayu matahari dikala senja

tuk memamerkan keindahannya

mereka dipuja di setiap masa, bagai raja dan ratu di dunia

Kembali ^0^

setelah 2 tahun blog ini terbengkalai, bahkan sempat lupa password blog..haha

kembali ah, coba nulis-nulis lagi puisi sama cerpen..

sepi emang blog-nya, tapi gpp..menyalurkan hobi menulis..

(adimas fiqri)

DEMI SEBUAH BENIH PADI YANG KELAK AKAN BERCAHAYA

Demi cita-citaku maka kubuatlah cerpen ini untuk kebaikan dunia…

Setelah bangkit dari kematian sementara dan lepas dari mimpi-mimpi yang terperangkap antara dunia dan kematian. Mengusap kening yang basah akan keringat dingin mulai bangun terkantuk-kantuk duduk di atas tempat tidur. Mengusap mata yang merah seakan membuka cahaya diantara debu-debu yang menggumpal menghalangi. Itulah aku remaja yang biasa saja dengan rambut berantakan keriting yang berwajah pucat agak berantakan dan aku adalah remaja yang bodah pemalas. Kicau burung membisingkan mulai meneriaki gendang telinga, aku turun ke bawah untuk sarapan, namun pagi itu berbeda. Kulihat secarik kertas.

“Sarapan sudah ibu siapkan, ibu pulang nanti siang. Kalau mau pergi ke sekolah nanti kuncinya simpan di tempat biasa.”

Kutatap jam dinding, rupanya aku agak kesiangan ternyata sudah pukul sembilan pagi.Aku pergi ke meja makan, tanpa pikir panjang kuambil piring dari rak piring dan kuletakan di atas meja makan, lalu kuambil beberapa sendok nasi dari panci ke atas piringku dan mengambil dua irisan besar tempe goreng kemudian kulahap habis sarapanku. Setelah sarapan kuambil handuk kering dari jemuran dan pergi mandi.

Seperti itulah kegiatanku sehari-hari hanya dirumah, pergi sekolah, dan pulang kembali ke rumah. Rasanya aku mulai sangat bosan akan kehidupan seperti itu, sangatlah terasa hampa walau terkadang ada beberapa hal kecil yang menarik.

Pada hari Minggu lebih terasa membosankan, hanya menonton televisi dan menghabiskan waktu untuk bersantai. Namun hari itu rasanya berbeda ketika aku tidur siang, aku bermimpi.

Aku melayang bebas di udara bagaikan angin yang bertiup sesuka hati, aku terbang menuju sekolahku dan melihat diriku sedang menghadapi ulangan. Ketika itu sedang ada ulangan umum, aku melihat diriku sendiri menolak memberikan jawaban kepada teman-teman disekitarnya. Dan aku juga melihat diriku memberikan makian kepada teman yang meminta jawaban ulanganku.

“Gar, lihat nomor 2, 3 ,dan 4!”

“Berisik, kerjain sendiri sialan!”

“DASAR PELIT! SOK JUJUR BANGET!”

“Terserah!”

Kemudian kurasakan angin bertiup dari belakangku dan menghempaskanku kembali ke alam sadarku.

“mimpi yang aneh! Apa mungkin petunjuk?” Pikirku dalam benakku.

Aku melamun dan melihat khayalan-khayalan yang sangat aneh. Ketika itu kulihat orang-orang. Kulihat mereka semua berbuat curang dan menghalalkan segala cara untuk mencapai kemakmuran mereka sendiri. Aku berada diantara orang-orang tersebut aku pun berbuat hal yang sama seperti mereka.Tiba-tiba kudengar suara-suara aneh yang membisikan sesuatu dalam lamunanku.

“Manusia lemah pantas saja mereka senang merusak kehidupan mereka sendiri dengan cara yang kotor!” Bisik suara itu.

“Yah, manusia memang seperti itu kalau mau hidup kaya raya, aku juga sangatlah ingin menjadi kaya raya,” Aku menjawab.

“begitulah alasannya, konyol sekali, begitulah caramu supaya kamu bisa lulus SMA, yaitu dengan cara yang sangat kotor, kamu pun akan masuk unversitas begitu kamu lulus, memiliki pekerjaan, memiliki istri, punya anak, dan hidup selayaknya manusia hidup bahagia seperti biasanya, sungguh lucu sekali dasar manusia,” komentar suara tersebut.

Aku bergumam, “seharusnya memang seperti itukan? Semua manusia memang seperti itu, kalau pun berbeda mereka akan mencari kebahagian dengan berbagai cara.”

Suara itu pun berkata, “bodoh sekali kamu, apakah manusia tidak mencari kebahagian akhirat? Apakah mereka hanya terlena dunia saja?”

“Tentu saja tidak, mereka akan mencari kebahagiaan dunia dan akhirat, tentunya hanya umat islamlah yang mendapat kebahagiaan akhirat tersebut,” aku bergumam.

“sungguh laknat kamu manusia, kamu ingin masuk surga tetapi apa kamu sudah menjalankan perintah Tuhanmu dengan benar? Dan lihatlah dirimu, sudahkah kamu shalat lima waktu dengan baik, benar, dan tulus dari dasar hatimu? Apakah kamu masih menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginanmu? Apakah kamu sudah berusaha untuk mencapai cita-citamu?” gumam suara tersebut

Aku berkata,”bukankah hidupku masih cukup lama dan bukankah masa remaja itu harus dinikmati karena hanya datang satu kali seumur hidup?”

Suara itu tertawa, ”hahahahaha, bodoh sekali, sungguh bodoh sekali kamu bilang hidupmu masih lama? Sungguh sangat bodoh, pantas saja manusia itu selalu menyia-nyiakan waktu mereka karena mereka berpikir umurnya masih panjang? Padahal Tuhanmu dan Tuhan mereka adalah sama yaitu Allah SWT, dan umur merekal ditentukan oleh Allah, mereka tak dapat memperkirakan kapan umur mereka akan dicabut oleh Allah.”

Aku bertanya dengan suara pelan,”aku tahu itu, tapi bukankah rata-rata kebanyakan yang sudah tua saja yang mati?”

Suara itu bekata lagi,” tahu apa kamu manusia? Tidak selalu yang sudah tua saja yang mati, yang muda juga banyak yang mati dengan berbagai sebab. Pantas saja mereka begitu bodohnya karena mereka berpikir hanya jika sudah tualah yang makin mendekati ajal mereka.”

Aku bertanya, “ maka apa yang harus aku lakukan? Aku bukanlah siapa-siapa aku tidak dapat sesempurna rasul-rasul Allah.”

“Pikirkan itu sendiri, tapi kuberitaku satu hal, ikutilah nurani hatimu sesungguhnya hati manusia itu fitrahnya adalah baik, dan janganlah kamu mengikuti nafsumu,” suara itu berkata dan menghilang.

Aku tersadar dari lamunanku rasanya aku berada dalam sangkar keputusasaan dan terbelenggu didalamnya.

“Aku tak tahu apa maksud dari suara tersebut, sudahlah tak usah memikirkan hal yang aneh-aneh,” pikirku dalam hatiku.

Besoknya adalah hari Senin, hari dimana mulai melakukan hal seperti biasa, dan hari itu merupakan hari yang menghantui beberapa siswa karena berarti bekerja keras setelah bersantai-santai satu hari.

Aku datang di sekolah pukul sepuluh pagi, padahal harusnya aku masuk pukul setengah satu siang. Tapi untunglah, aku ingat hari itu ada tes UKA atau “Uji Kompetensi Agama”. Tes UKA itu adalah sejenis tes untuk hafalan surat-surat, do’a, dan praktek. Pada saat tes aku hanya dapat menghapal sedikit surat pendek dan beberapa do’a saja.

Guru tes UKA-ku bernama Pak Ruhiyat, dia bertanya kepadaku ketika aku selesai tes, “Kamu kenapa cuma hafal surat segini saja?”

“Saya belum ngapalin surat di rumah pak,” jawabku.

“Kamu suka shalat tidak di rumah?” Tanya Pak Ruhiyat.

“Bolong-bolong pak, kadang shalat kadang tidak,” aku tersipu malu.

“Pantesan, lalu kalau shalat baca surat apa aja setelah al-fatihah?” Tanya Pak Ruhiyat.

“Surat yang pendek, seperti al-iklhas, at-kautsar, dan yang pendek-pendek aja pak,” jawabku.

“Kamu tahu tidak kalau kamu nanti akan jadi pemimpin keluargamu, kamu harus punya tanggung jawab, mulai sekarang dirikanlah shalat lima waktu jangan sampai bolong-bolong lagi dan hapalin surat lebih banyak lagi!” Perintah Pak Ruhiyat.

“Baiklah pak saya usahakan”

Setelah itu saya bertekad dalam hati, “saya harus coba sebisa mungkin.” Setelah itu aku menunggu adzan shalat zuhur, sambil menunggu aku menunggu di ruang skretariat DKM bersama beberapa temanku.

Ketika aku masuk ruang skretariat DKM, terlintas di pikiranku, “kenapa tidak masuk DKM saja? Mungkin bagus juga.”

Tanpa pikir panjang aku bertanya pada temanku Handoko, “Ko, gimana caranya daftar jadi DKM?”

“Mau ikut DKM? Ikut kegiatannya aja, nanti tiap hari sabtu mentoring,” jawab Handoko.

Setelah itu adzan zhuhur berkumandang lalu aku pun bersiap mengambil whudu dan shalat berjamaah.

Akhirnya aku masuk kelas dan belajar seperti biasa, agak terasa sedikit membosankan tetapi aku harus berusaha mempelajari pelajaran yang diberikan walaupun pelajaran tersebut masuk telinga kiri keluar telinga kanan, kutangkap kembali dan kumasukan ke telinga kanan dengan paksa. Dan pukul 5 Sore aku pulang seperti biasa.

Di perjalanan pulang aku duduk di kursi angkot yang kosong, perasaanku serasa terbang ketika angkot berjalan, lagi-lagi aku terbawa ke alam khayalku.

Aku melihat peperangan, entahlah aku tak tahu peperangan apa itu, tetapi di hatiku terpikir itu perang saudara. Aku mencium bau darah yang amat kental, melihat kehancuran dimana-mana.Tiba-tiba sebuah benda raksasa datang dari langit entahlah apa itu namun bentuknya terlihat seperti sebuat kotak raksasa dan menimpa semuanya, maka perang tersebut berakhir. Aku tersadar, dan buru-buru menghentikan laju angkot karena aku sudah sampai tujuan. Setelah itu aku naik ojeg dan pulang.

Sesampainya di rumah aku mengucapkan salam dan meletakan sepatu di rak sepatu kemudian aku masuk kamar dan merebahkan diri di tempat tidur. Berpikir sejenak, kenapa akhir-akhir ini aku sering melihat khayalan aneh, pikiranku sepertinya kurang waras. Aku berpikir apa arti dari suara misterius, apakah ini pertanda atau aku yang kurang waras? Aku mulai berpikir untuk apa aku hidup di dunia? Apakah aku pantas hidup di dunia? Aku berpikir untuk apa sekolah? apakah aku pantas bersekolah atau tidak? Pikiranku berputar seperti sebuah gasing dan tak dapat berpikir lagi. Sayup-sayup terdengar suara dari dalam hatiku.

“kamu tak pantas hidup dan kamu tidak berhak bersekolah,” sahut suara itu.

“Yah, aku tak pantas sekolah, aku sadar aku tidak pintar lagipula aku hidup di dunia ini tak ada artinya,” pikirku dalam hati,” tapi aku sudah diberi kehidupan oleh Allah dan aku bisa bersekolah, jadi apa yang harus aku lakukan? Bunuh diri? Itu tidak mungkin karena aku sangat tahu bahwa azab bagi orang yang bunuh diri amat menyakitkan dan aku tidak akan pernah berniat untuk bunuh diri.”

“Kalau begitu, karena kamu sudah terlanjur hidup dan orang tuamu sanggup membiayai sekolahmu, maka kamu harus dapat memanfaatkan itu,” suara itu berkata.

Aku mulai berpikir ,”sungguh beruntung orang yang tak pernah hidup, tidak akan pernah merasakan beban hidup, tapi aku harus hidup, aku harus mencari ilmu supaya aku dapat mencari jawaban apa arti kehidupan ini.”

“Sekarang dunia ini sedang berada dalam keaadan kacau balau banyak sekali manusia yang tersesat karena tak tahu tujuan mereka dan mereka terlena oleh nikmat dunia,” sahut suara tersebut.

“Jadi apakah sekarang aku harus temukan cara bagaimana caranya untuk mengubah dunia agar orang tidak tersesat di dunia dan menyelamatkan mereka dari kesesatan dunia?” Aku bertanya dalam hati,” tapi aku hanyalah manusia yang biasa saja, aku bukanlah utusan Allah atau semacamnya ditambah lagi aku tidaklah pintar, apa yang dapat aku lakukan?”

“Lakukan apa saja yang bisa kamu lakukan, sesungguhnya mungkin saja manusia pada zaman ini mungkin sedang menerima azab dari Allah karena banyak manusia yang berusaha menyesatkan manusia lain dan mereka akan berakhir menyedihkan karena menentang jalan yang diridhai Allah,” jawab suara tersebut.

“Aku sudah diberi hidup, aku memegang agama islam, dan aku diberi ilmu lewat sekolah. Aku harus hidup berguna untuk Allah. Aku harus mempelajari isi al-quran.,” aku bertekad,” Oh, aku tahu caranya, insya Allah akan berhasil, nanti ketika aku lulus perguruan tinggi aku akan mendidik orang-orang yang tidak mampu dengan seluruh ilmu yang kumiliki dan menegakan aqidah mereka dengan benar, maka aku akan beribadah, mempelajari ilmu agama dan seluruh ilmu pengetahuan dengan sebaik-baiknya dan kelak dunia akan berubah menjadi lebih baik.”

“Maka do’akanlah seluruh umat islam agar dapat mengerti dan mereka sungguh-sungguh menjalani agama dan hidup mereka agar mereka semua bisa merubah dunia dengan aqidah yang benar,” setelah berkata, suara itu hilang.

“Aku harus membuat rencana yang sempurna untuk merubah dunia, tapi sebelum merubah dunia, selama masa SMA ini aku harus memperbaiki diriku sendiri karena aku hanyalah manusia yang banyak berbuat salah dan sesungguhnya aku tahu kebenaran hanya datang dari Allah,” aku bangkit dari lamunanku,” Mulai sekarang aku harus berusaha walau aku mati sekalipun asalkan dunia ini dapat diperbaiki aku rela, tapi aku harus berdo’a pada Allah agar aku diberi umur yang cukup setidaknya sampai aku berhasil menemukan penerusku ketika aku gagal menjalani misi ini.”

Aku mengambil sebuah pena yang merana ditinggal tuannya di dalam kolong meja belajar yang kotor dan mulai menulis sebuah puisi,

DEMI SEBUAH BENIH PADI YANG KELAK AKAN BERCAHAYA

Aku hanyalah manusia biasa

Yang sudah terlanjur diberi kehidupan oleh sang pencipta

Aku hanyalah manusia tak berguna

Yang mempunyai sebuah cita-cita

Hidup dengan merana

Berjalan dengan sesukanya

Namun ketika hati kecil berkata

Aku harus merubah semua

Demi sebuah dunia

Aku tanam sebuah benih biasa

Benih padi yang sedikit kotor dan hina

Suatu saat akan bercahaya

Aku harus berusaha

Untuk selalu melindunginya

Dari kesesatan fatamorgana

Yang dipancarkan oleh sebuah kenikmatan semata

Ketika engkau, sang benih tumbuh seiiring waktunya

Janganlah engkau menangis dan putus asa

Tegakan kebenaran di dunia

Engkau harus menjadi pahlawan yang bercahaya

Aku akan turut memberikan do’a

Untuk menyembuhkan duka

Dari hati kecil merana

Untuk kesembuhan dunia

Setelah menulis puisi tersebut, aku mengambil air wudhu untuk shalat magrib karena sudah terdengar adzan yang berkumandang sebagai pertanda untuk orang yang beriman untuk berjalan menegakan shalat. Maka selesai shalat aku berdo’a kepada Allah,” ya Allah, semoga aku bisa mencapai tujuanku dengan ridhamu sebelum aku menemui ajalku, amin.”

Aku sudah menemukan tujuanku mulai saat ini rasanya kehidupanku berbeda, aku sudah menemukan tantangan terberat dalam hidupku walau rasanya tidak mungkin merubah dunia, aku harus mencoba sebisanya dengan cara menemukan benih-benih yang kelak akan lebih berguna daripada diriku sendiri dan dapat meneruskan perjuangan dari seorang anak laki-laki yang bodoh dan tak berguna ini.

Maka dengan cara masuk DKM aku bisa dapat ilmu islam jauh lebih dalam dan dapat mengamalkannya untuk suatu hari dimana akan ada hari kejatuhan dari setan-setan jin dan manusia yang menyesatkan seluruh umat manusia selama hidupnya.

Demi sebuah benih padi yang kelak akan bercahaya, selesai…

By:(A-Gar)

 

Kata-kata yang melebihi cinta

Jika setiap manusia

Hidup mencari cinta

Mencari pasangan hidup mereka

Dan terkadang berakhir dingan dusta

 

Apakah ada sepatah kata

Yang melebihi sebuah makna

Perasaan cinta yang bergelora

Tanpa adanya hal yang setia

 

Untuk berakhir bahagia

Mereka akan selalu berusaha

Walau kehidupan mereka merana

Yang terobsesi oleh cinta buta

 

Mungkinkah cinta ini sempurna

Tanpa ada artinya

Sebuah kata yang tak dapat diungkapkannya

Kata yang melebihi makna cinta

 

Entah sampai kapan manusia

Mencari makna yang melebihi cinta

 

 

 

 

Tekad setajam belati

 

Kubuang masa lalu ini

Kuangkat sebuah belati

Untuk menebas yang menghalangi

 

Walau tangan ini mati

Aku tak akan menangisi

Sesuatu yang tak berarti

Maju seakan tak peduli

 

Akulah sang badai

Yang akan pergi

Suatu hari nanti

Dan tak akan kembali

 

Siapapun yang menghalangi lagi

Tak akan segan kuhabisi

Rasa dan emosi

Tak kuhiraukan sampai nanti

 

Tekad adalah sebuah belati

Tekad ini tak akan pergi

 

 

 

 

 

Nasib dan koin perunggu

Apa nasib seperti itu

Berputar tidak menentu

Koin yang selalu

Tertutup, terbuka seiring waktu

 

Bergantung padamu

Atau pada diriku

Siapa yang mengadu

Nasib yang baru

 

Sampai kapan kutunggu

Koin perunggu

Melesat bagai peluru

Apa yang menagis dan terharu

 

Di bawah bayang semu

Diam dan membisu

Nasib yang tersedu-sedu

Bebas atau terbelenggu

 

Jangan bergantung pada nasibmu

Kau sendiri yang mengubah nasibmu

 

 

 

 

Gelas pecah yang mati

Apa yang terjadi ?

Aku menyiakan waktu sekian kali

Menyapa seperti ini

Air yang tumpah terurai

 

Pecah dan hancur tak kembali

Dijalan sekecil hati

Apakah akan lebih baik lagi

Semua telah terjadi

 

Meluap seluruh emosi

Gemericik air menari

Aku ingin memperbaiki

Apa yang telah pergi

 

Gelas pecah yang mati

Hampa tanpa isi

Aku takan mengulangi

kesalahan seperti ini

 

suatu hari nanti

akan ada yang berarti

 

 

 

 

Hal yang sia-sia

Itulah sebuah dunia

Yang dihuni manusia

Yang lupa akan dirinya

Dengan berbuat hal yang sia-sia

 

Itulah kemunafikannya

Yang tak bisa ditutupi raut muka

Yang penuh kebohongan belaka

Dengan sesuatu yang dikhianatinya

 

Itulah sampah mereka

Yang berserakan dimana-mana

Yang terbuai fatamorgana

Dengan bayangan gelap gulita

 

Itulah buah tipu daya

Yang ditelan sengaja

Yang tak dapat dipercaya

Dengan segala dusta

 

Munafik adalah dusta

Buanglah segala tipu daya

 

 

Mengejar kereta waktu

Waktu berjalan maju

Dan berjalan berpacu

Aku yang kehilangan waktu

Berlari mengejar asap kelabu

 

Langit yang membiru

Namun tak menunggu

Pergi seiring deru

Disertai angin berseru

 

Debu yang disapu

Diriku yang terantuk batu

Kereta berlari membisu

Suara mesin yang beku

 

Mengapa engkau ?

Pergi meninggalkanku

Tapi semangat baru

Akan tumbuh beradu

 

Kejarlah waktumu

Sebelum tubuhmu kaku

 

 

 

 

Bersandar pada pohon tua

Kota begitu teriknya

Matahari memancarkan cahaya

Kemarau di sebuah kota

Seakan terjadi selamanya

Bersandar pada pohon tua

Seakan-akan mulai lupa

Pergi ke sebuah dunia

Yang terasa begitu fana

Maka tergambarlah realita

Kehidupan manusia berada

Di sebuah kisah nyata

Di balik pohon merana

Diam terasa sejuknya

Tidur dibalik bayangnya

Yang letih sebagai manusia

Hidup dengan berbagai rupa

Sebuah kehidupan menyala

dibalik bayangannya

Jika dunia jatuh ke dasar neraka

Hidup manusia bercampur dosa

Tergantung diantara nasib mereka

Mengais sedikit pahala

Tanpa berbuat apa-apa

 

Ya tuhan sang maha pencipta

Apa tujuanmu sesungguhnya

Menciptakan sebuah dunia

Jika hanya dihuni manusia yang berdusta

 

Dan jika dunia hancur seketika

Maka seluruh tubuh manusia

Akan menjadi tanah yang binasa

Jatuhlah mereka ke dalam dasar neraka

 

Mereka semua merana

Mereka lupa akan dirinya

Mereka hanya menyesal pada akhirnya

Jika mereka tak berbuat kebaikan dunia

 

Lakukanlah kebijakan di dunia

Agar tidak menyesal untuk selamanya

Mengapa langit begitu biru

 

Ketika seorang mati membatu

Jatuh tergeletak membisu

Menatap langit yang biru

Dengan tatapan mata yang kaku

 

Tangan yang hancur menjadi abu

Mulai menyatu dengan tanah yang baru

Jiwa yang dahulu terbelenggu

Melayang menuju langit itu

 

Bersatu dengan awan seputih salju

Yang kini berubah kelabu

Maka rintik hujan berseru

Bersahutan dengan petir yang bernafsu

 

Seiring berjalannya waktu

Angin berhenti berderu

Langit kembali membiru

Diatas tubuh yang membeku

 

Tubuh ini termakan sang waktu

Menatap kekosongan langit biru

 

 

Hidup di bawah senja

Ketika kulihat senja

Berwarna merah membara

Diam terpangku melihatnya

Sampai tidak terjangkau mata

 

Duduk menikmati hangatnya senja

Hanya duduk tanpa suara

Menanti seperti layaknya manusia

Kehadiran perasaan cinta

 

Namun tak pernah kunjung tiba

cinta yang begitu fana

Hanya sedikit mengharapkannya

Diantara siang dan malam berada

 

Warna senja menggambarkan murka

Oleh merah darah di dunia

Kutunggu selamanya

Untuk melihat akhir senja

 

Ketika matahari menghilang dari pandangan mata

Ketika itulah munculah malam pengganti senja

Umur sepotong roti

Ketika aku berbentuk adonan roti

Aku diberi bahan yang mengisi

Kemudian dibungkus kembali

Maka aku dipanggang di oven besi

 

Ketika oven mati

Aku adalah roti yang sudah jadi

Aku dibawa ke sebuah toko roti

Dihidangkan untuk menarik pembeli

 

Perlahan-lahan toko itu menjadi sepi

Aku tak pernah diindahkan sama sekali

Aku mulai lapuk dijamuri

Maka aku ini sekarang sudah basi

 

Aku dibuang ke tempat sampah yang mati

Aku berakhir disini

Selayaknya sebagaimana manusia pergi

Ke tempat peristirahatan ini

 

Kehidupan sepotong roti

Mirip selayaknya manusia mati

 

 

Jurit malam yang mencekam…

Pada saat bulan ramadhan aku dan teman-temanku berencana mengikuti pesantren kilat yang diadakan selama dua minggu awal ramadhan, dan dimulai dari dzuhur sampai ashar, pada saat itu aku masih duduk di kelas lima sekolah dasar, tempat pesantrennya pun tidak jauh dari rumahku yaitu masjid al-hasan tiga.
Di hari pertama saya datang ke tempat pesantren agak terlambat dari waktu yang telah ditentukan dan saya pun ditegur di hari pertama saa mengikuti pesantren, seperti biasa kami diajari pendidikan agama oleh para pengajar juga dilatih membaca al-quran dengan baik.
Pada waktu menghapal surat-surat pendek salah satu pengajar yang bernama Pa Tatang datang dan memberitahu pada hari sabtu sampai hari minggu akan diadakan acara renungan ramadhan dan disuruh mempersiapkannya kata pengajar lain akan ada kejutan di tengah malam, saya pun menjadi semakin penasaran mengikuti acara tersebut.
Di hari keempat pesantren kilat akan diadakan buka puasa bersama di masjid. Bergegaslah semua siswa pulang kerumah untuk membawa makanannya masing-masing, dan kami pun membaca al-quran bersama sembari menunngu bedug maghrib dikumandangkan, akhirnya adzan maghrib pun dikumandangkan, dan kami pun memakan ta’jil bersama-sama sedangkan makan berat dilakukan setelah sholat maghrib. Setelah sholat maghrib kami pun makan tapi, pada saat itu temanku ada yang tidak membawa makanan lalu tapi pa tatang berkata “satu makan semua harus makan”. pa tatang pun memberikan sebagian makanannya dan akupun melakukan hal yang sama. Setelah selesai kami pun mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tarawih dan sholat isya.
Di hari jum’at tepatnya sehari sebelum acara renungan ramadhan aku dan ryan tidak sabar menunggu esok hari dan kami pun membincangkan hal itu sampai kami pun pulang di rumah aku pun mempersiapkan apa yang dibutuhkan esok hari seperti baju koko, baju kaos, baju olahraga , senter, dan tentunnya makanan pada saat tidur aku pun sampai memimpikan acara tersebut.
Pagi harinya aku pergi ke masjid bersama ryan dan di masjid kami diberi pengajaran seperti pada hari lainnya karena acara renungan ramadhan baru diadakan setelah tarawih dan salat isya.
Setelah sholat tarawih dan sholat isya semua orang pun telah pulang akhirnya acara renungan ramadhan pun dimulai dan kami pun disuruh berkumpul, ketua DKM pun memberikan membuka kegiatan ini.
Kegiatan pertama adalah perenungan semua lampu pun dimatikan dan hanya ada lilin yang menyala. dipimpin oleh Pa Tatang kami semua pun disuruh merenungkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan kepada orang tua dan kami pun merenung dan dengan sungguh-sungguh semua merasa bersalah dan teman-temanku pun menangis ,rian juga ikut menangis akupun tidak bisa menahan air mata ini dan aku pun mengucurkan air mata karena aku merasa aku telah melakukan melakukan banyak kesalahan yang telah kulakukan pada orangtuaku terutama ibuku aku sering membuatnya menangis dan membuatnnya marah.
Sekitar jam sepuluh malam setelah kegiatan perenungan selesai kami disuruh untuk tidur oleh pengajar kami, aku pun lekas tidur karena aku tahu akanada kegiatan yang akan dilakukan tengah malam nanti.
Saat aku benar-benar sedang tidur nyenyak aku dibangunkan oleh Pa Tatang kami pun disuruh berkumpul didepan masjid ternata akan dilakukan acara jurit malam kami pun dibagi dalam sepuluh kelompok, aku pun sekelompok dengan Ryan dan kami pun diberikan peta dimana di beberapa titik akan ada pos-pos yang akan memberikan ujian, disaat berjalan dimalam yang dingin dan mencekam dengan penerangan senter yang seadanya kami sekelompok melihat seperti kain putih diatas pohon seraaaaaaaaaaamm kami pun tak henti-hentinya berdoa salah satu temanku ada yang ketakutan dan berlari kami semuapun ikut berlari sekencang-kencangnya ke pos pertama disana kami ditanya berbagai hal,setelah selesai kami pun lekas pergi ke pos berikutnya sepertinya tak henti-hentinya ada ujian saat kami sedan berjalan ke pos yang terakhir tiba-tiba muncul sesosok seperti pocong yang muncul dari semak-semak kami pun kaget dan tercengang malam ini terasa begitu mencekam,saat hampir sampai kami melewati kuburan yang membuat bulukudukku semakin berdiri di balik pohon muncilah sesosok kuntilanak karena takutnya akupun melemparnya dengan batu kecil dan mengenai kuntilanal tersebut tapi saat mengenainya kuntilanak itu berteriak auuuuuuuuuuuwwwwww sakit kami pun berpikir masa hantu kayak gitu kami pun mendekatinya dan ternyata dibalik kani putih tersebut adalah guru pegajar kami dimesjid setelah selesai saya tahu bahwa hantu itu memang tidak perlu ditakuti.
Setelah semua berkumpul di masjid dan ksmi makan sahur bersama dan setelah selesai kami melaksanakan sholat shubuh dan paginya kami pun pulang ke rumah masing-masing aku tahu semua hantu yang kulihat adalah pengajarku,aku pun jadi tidak takut lagi kepada hantu asalkan kita percaya pada allah SWT. (BY:aDIMAS)

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.