Demi cita-citaku maka kubuatlah cerpen ini untuk kebaikan dunia…
Setelah bangkit dari kematian sementara dan lepas dari mimpi-mimpi yang terperangkap antara dunia dan kematian. Mengusap kening yang basah akan keringat dingin mulai bangun terkantuk-kantuk duduk di atas tempat tidur. Mengusap mata yang merah seakan membuka cahaya diantara debu-debu yang menggumpal menghalangi. Itulah aku remaja yang biasa saja dengan rambut berantakan keriting yang berwajah pucat agak berantakan dan aku adalah remaja yang bodah pemalas. Kicau burung membisingkan mulai meneriaki gendang telinga, aku turun ke bawah untuk sarapan, namun pagi itu berbeda. Kulihat secarik kertas.
“Sarapan sudah ibu siapkan, ibu pulang nanti siang. Kalau mau pergi ke sekolah nanti kuncinya simpan di tempat biasa.”
Kutatap jam dinding, rupanya aku agak kesiangan ternyata sudah pukul sembilan pagi.Aku pergi ke meja makan, tanpa pikir panjang kuambil piring dari rak piring dan kuletakan di atas meja makan, lalu kuambil beberapa sendok nasi dari panci ke atas piringku dan mengambil dua irisan besar tempe goreng kemudian kulahap habis sarapanku. Setelah sarapan kuambil handuk kering dari jemuran dan pergi mandi.
Seperti itulah kegiatanku sehari-hari hanya dirumah, pergi sekolah, dan pulang kembali ke rumah. Rasanya aku mulai sangat bosan akan kehidupan seperti itu, sangatlah terasa hampa walau terkadang ada beberapa hal kecil yang menarik.
Pada hari Minggu lebih terasa membosankan, hanya menonton televisi dan menghabiskan waktu untuk bersantai. Namun hari itu rasanya berbeda ketika aku tidur siang, aku bermimpi.
Aku melayang bebas di udara bagaikan angin yang bertiup sesuka hati, aku terbang menuju sekolahku dan melihat diriku sedang menghadapi ulangan. Ketika itu sedang ada ulangan umum, aku melihat diriku sendiri menolak memberikan jawaban kepada teman-teman disekitarnya. Dan aku juga melihat diriku memberikan makian kepada teman yang meminta jawaban ulanganku.
“Gar, lihat nomor 2, 3 ,dan 4!”
“Berisik, kerjain sendiri sialan!”
“DASAR PELIT! SOK JUJUR BANGET!”
“Terserah!”
Kemudian kurasakan angin bertiup dari belakangku dan menghempaskanku kembali ke alam sadarku.
“mimpi yang aneh! Apa mungkin petunjuk?” Pikirku dalam benakku.
Aku melamun dan melihat khayalan-khayalan yang sangat aneh. Ketika itu kulihat orang-orang. Kulihat mereka semua berbuat curang dan menghalalkan segala cara untuk mencapai kemakmuran mereka sendiri. Aku berada diantara orang-orang tersebut aku pun berbuat hal yang sama seperti mereka.Tiba-tiba kudengar suara-suara aneh yang membisikan sesuatu dalam lamunanku.
“Manusia lemah pantas saja mereka senang merusak kehidupan mereka sendiri dengan cara yang kotor!” Bisik suara itu.
“Yah, manusia memang seperti itu kalau mau hidup kaya raya, aku juga sangatlah ingin menjadi kaya raya,” Aku menjawab.
“begitulah alasannya, konyol sekali, begitulah caramu supaya kamu bisa lulus SMA, yaitu dengan cara yang sangat kotor, kamu pun akan masuk unversitas begitu kamu lulus, memiliki pekerjaan, memiliki istri, punya anak, dan hidup selayaknya manusia hidup bahagia seperti biasanya, sungguh lucu sekali dasar manusia,” komentar suara tersebut.
Aku bergumam, “seharusnya memang seperti itukan? Semua manusia memang seperti itu, kalau pun berbeda mereka akan mencari kebahagian dengan berbagai cara.”
Suara itu pun berkata, “bodoh sekali kamu, apakah manusia tidak mencari kebahagian akhirat? Apakah mereka hanya terlena dunia saja?”
“Tentu saja tidak, mereka akan mencari kebahagiaan dunia dan akhirat, tentunya hanya umat islamlah yang mendapat kebahagiaan akhirat tersebut,” aku bergumam.
“sungguh laknat kamu manusia, kamu ingin masuk surga tetapi apa kamu sudah menjalankan perintah Tuhanmu dengan benar? Dan lihatlah dirimu, sudahkah kamu shalat lima waktu dengan baik, benar, dan tulus dari dasar hatimu? Apakah kamu masih menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginanmu? Apakah kamu sudah berusaha untuk mencapai cita-citamu?” gumam suara tersebut
Aku berkata,”bukankah hidupku masih cukup lama dan bukankah masa remaja itu harus dinikmati karena hanya datang satu kali seumur hidup?”
Suara itu tertawa, ”hahahahaha, bodoh sekali, sungguh bodoh sekali kamu bilang hidupmu masih lama? Sungguh sangat bodoh, pantas saja manusia itu selalu menyia-nyiakan waktu mereka karena mereka berpikir umurnya masih panjang? Padahal Tuhanmu dan Tuhan mereka adalah sama yaitu Allah SWT, dan umur merekal ditentukan oleh Allah, mereka tak dapat memperkirakan kapan umur mereka akan dicabut oleh Allah.”
Aku bertanya dengan suara pelan,”aku tahu itu, tapi bukankah rata-rata kebanyakan yang sudah tua saja yang mati?”
Suara itu bekata lagi,” tahu apa kamu manusia? Tidak selalu yang sudah tua saja yang mati, yang muda juga banyak yang mati dengan berbagai sebab. Pantas saja mereka begitu bodohnya karena mereka berpikir hanya jika sudah tualah yang makin mendekati ajal mereka.”
Aku bertanya, “ maka apa yang harus aku lakukan? Aku bukanlah siapa-siapa aku tidak dapat sesempurna rasul-rasul Allah.”
“Pikirkan itu sendiri, tapi kuberitaku satu hal, ikutilah nurani hatimu sesungguhnya hati manusia itu fitrahnya adalah baik, dan janganlah kamu mengikuti nafsumu,” suara itu berkata dan menghilang.
Aku tersadar dari lamunanku rasanya aku berada dalam sangkar keputusasaan dan terbelenggu didalamnya.
“Aku tak tahu apa maksud dari suara tersebut, sudahlah tak usah memikirkan hal yang aneh-aneh,” pikirku dalam hatiku.
Besoknya adalah hari Senin, hari dimana mulai melakukan hal seperti biasa, dan hari itu merupakan hari yang menghantui beberapa siswa karena berarti bekerja keras setelah bersantai-santai satu hari.
Aku datang di sekolah pukul sepuluh pagi, padahal harusnya aku masuk pukul setengah satu siang. Tapi untunglah, aku ingat hari itu ada tes UKA atau “Uji Kompetensi Agama”. Tes UKA itu adalah sejenis tes untuk hafalan surat-surat, do’a, dan praktek. Pada saat tes aku hanya dapat menghapal sedikit surat pendek dan beberapa do’a saja.
Guru tes UKA-ku bernama Pak Ruhiyat, dia bertanya kepadaku ketika aku selesai tes, “Kamu kenapa cuma hafal surat segini saja?”
“Saya belum ngapalin surat di rumah pak,” jawabku.
“Kamu suka shalat tidak di rumah?” Tanya Pak Ruhiyat.
“Bolong-bolong pak, kadang shalat kadang tidak,” aku tersipu malu.
“Pantesan, lalu kalau shalat baca surat apa aja setelah al-fatihah?” Tanya Pak Ruhiyat.
“Surat yang pendek, seperti al-iklhas, at-kautsar, dan yang pendek-pendek aja pak,” jawabku.
“Kamu tahu tidak kalau kamu nanti akan jadi pemimpin keluargamu, kamu harus punya tanggung jawab, mulai sekarang dirikanlah shalat lima waktu jangan sampai bolong-bolong lagi dan hapalin surat lebih banyak lagi!” Perintah Pak Ruhiyat.
“Baiklah pak saya usahakan”
Setelah itu saya bertekad dalam hati, “saya harus coba sebisa mungkin.” Setelah itu aku menunggu adzan shalat zuhur, sambil menunggu aku menunggu di ruang skretariat DKM bersama beberapa temanku.
Ketika aku masuk ruang skretariat DKM, terlintas di pikiranku, “kenapa tidak masuk DKM saja? Mungkin bagus juga.”
Tanpa pikir panjang aku bertanya pada temanku Handoko, “Ko, gimana caranya daftar jadi DKM?”
“Mau ikut DKM? Ikut kegiatannya aja, nanti tiap hari sabtu mentoring,” jawab Handoko.
Setelah itu adzan zhuhur berkumandang lalu aku pun bersiap mengambil whudu dan shalat berjamaah.
Akhirnya aku masuk kelas dan belajar seperti biasa, agak terasa sedikit membosankan tetapi aku harus berusaha mempelajari pelajaran yang diberikan walaupun pelajaran tersebut masuk telinga kiri keluar telinga kanan, kutangkap kembali dan kumasukan ke telinga kanan dengan paksa. Dan pukul 5 Sore aku pulang seperti biasa.
Di perjalanan pulang aku duduk di kursi angkot yang kosong, perasaanku serasa terbang ketika angkot berjalan, lagi-lagi aku terbawa ke alam khayalku.
Aku melihat peperangan, entahlah aku tak tahu peperangan apa itu, tetapi di hatiku terpikir itu perang saudara. Aku mencium bau darah yang amat kental, melihat kehancuran dimana-mana.Tiba-tiba sebuah benda raksasa datang dari langit entahlah apa itu namun bentuknya terlihat seperti sebuat kotak raksasa dan menimpa semuanya, maka perang tersebut berakhir. Aku tersadar, dan buru-buru menghentikan laju angkot karena aku sudah sampai tujuan. Setelah itu aku naik ojeg dan pulang.
Sesampainya di rumah aku mengucapkan salam dan meletakan sepatu di rak sepatu kemudian aku masuk kamar dan merebahkan diri di tempat tidur. Berpikir sejenak, kenapa akhir-akhir ini aku sering melihat khayalan aneh, pikiranku sepertinya kurang waras. Aku berpikir apa arti dari suara misterius, apakah ini pertanda atau aku yang kurang waras? Aku mulai berpikir untuk apa aku hidup di dunia? Apakah aku pantas hidup di dunia? Aku berpikir untuk apa sekolah? apakah aku pantas bersekolah atau tidak? Pikiranku berputar seperti sebuah gasing dan tak dapat berpikir lagi. Sayup-sayup terdengar suara dari dalam hatiku.
“kamu tak pantas hidup dan kamu tidak berhak bersekolah,” sahut suara itu.
“Yah, aku tak pantas sekolah, aku sadar aku tidak pintar lagipula aku hidup di dunia ini tak ada artinya,” pikirku dalam hati,” tapi aku sudah diberi kehidupan oleh Allah dan aku bisa bersekolah, jadi apa yang harus aku lakukan? Bunuh diri? Itu tidak mungkin karena aku sangat tahu bahwa azab bagi orang yang bunuh diri amat menyakitkan dan aku tidak akan pernah berniat untuk bunuh diri.”
“Kalau begitu, karena kamu sudah terlanjur hidup dan orang tuamu sanggup membiayai sekolahmu, maka kamu harus dapat memanfaatkan itu,” suara itu berkata.
Aku mulai berpikir ,”sungguh beruntung orang yang tak pernah hidup, tidak akan pernah merasakan beban hidup, tapi aku harus hidup, aku harus mencari ilmu supaya aku dapat mencari jawaban apa arti kehidupan ini.”
“Sekarang dunia ini sedang berada dalam keaadan kacau balau banyak sekali manusia yang tersesat karena tak tahu tujuan mereka dan mereka terlena oleh nikmat dunia,” sahut suara tersebut.
“Jadi apakah sekarang aku harus temukan cara bagaimana caranya untuk mengubah dunia agar orang tidak tersesat di dunia dan menyelamatkan mereka dari kesesatan dunia?” Aku bertanya dalam hati,” tapi aku hanyalah manusia yang biasa saja, aku bukanlah utusan Allah atau semacamnya ditambah lagi aku tidaklah pintar, apa yang dapat aku lakukan?”
“Lakukan apa saja yang bisa kamu lakukan, sesungguhnya mungkin saja manusia pada zaman ini mungkin sedang menerima azab dari Allah karena banyak manusia yang berusaha menyesatkan manusia lain dan mereka akan berakhir menyedihkan karena menentang jalan yang diridhai Allah,” jawab suara tersebut.
“Aku sudah diberi hidup, aku memegang agama islam, dan aku diberi ilmu lewat sekolah. Aku harus hidup berguna untuk Allah. Aku harus mempelajari isi al-quran.,” aku bertekad,” Oh, aku tahu caranya, insya Allah akan berhasil, nanti ketika aku lulus perguruan tinggi aku akan mendidik orang-orang yang tidak mampu dengan seluruh ilmu yang kumiliki dan menegakan aqidah mereka dengan benar, maka aku akan beribadah, mempelajari ilmu agama dan seluruh ilmu pengetahuan dengan sebaik-baiknya dan kelak dunia akan berubah menjadi lebih baik.”
“Maka do’akanlah seluruh umat islam agar dapat mengerti dan mereka sungguh-sungguh menjalani agama dan hidup mereka agar mereka semua bisa merubah dunia dengan aqidah yang benar,” setelah berkata, suara itu hilang.
“Aku harus membuat rencana yang sempurna untuk merubah dunia, tapi sebelum merubah dunia, selama masa SMA ini aku harus memperbaiki diriku sendiri karena aku hanyalah manusia yang banyak berbuat salah dan sesungguhnya aku tahu kebenaran hanya datang dari Allah,” aku bangkit dari lamunanku,” Mulai sekarang aku harus berusaha walau aku mati sekalipun asalkan dunia ini dapat diperbaiki aku rela, tapi aku harus berdo’a pada Allah agar aku diberi umur yang cukup setidaknya sampai aku berhasil menemukan penerusku ketika aku gagal menjalani misi ini.”
Aku mengambil sebuah pena yang merana ditinggal tuannya di dalam kolong meja belajar yang kotor dan mulai menulis sebuah puisi,
DEMI SEBUAH BENIH PADI YANG KELAK AKAN BERCAHAYA
Aku hanyalah manusia biasa
Yang sudah terlanjur diberi kehidupan oleh sang pencipta
Aku hanyalah manusia tak berguna
Yang mempunyai sebuah cita-cita
Hidup dengan merana
Berjalan dengan sesukanya
Namun ketika hati kecil berkata
Aku harus merubah semua
Demi sebuah dunia
Aku tanam sebuah benih biasa
Benih padi yang sedikit kotor dan hina
Suatu saat akan bercahaya
Aku harus berusaha
Untuk selalu melindunginya
Dari kesesatan fatamorgana
Yang dipancarkan oleh sebuah kenikmatan semata
Ketika engkau, sang benih tumbuh seiiring waktunya
Janganlah engkau menangis dan putus asa
Tegakan kebenaran di dunia
Engkau harus menjadi pahlawan yang bercahaya
Aku akan turut memberikan do’a
Untuk menyembuhkan duka
Dari hati kecil merana
Untuk kesembuhan dunia
Setelah menulis puisi tersebut, aku mengambil air wudhu untuk shalat magrib karena sudah terdengar adzan yang berkumandang sebagai pertanda untuk orang yang beriman untuk berjalan menegakan shalat. Maka selesai shalat aku berdo’a kepada Allah,” ya Allah, semoga aku bisa mencapai tujuanku dengan ridhamu sebelum aku menemui ajalku, amin.”
Aku sudah menemukan tujuanku mulai saat ini rasanya kehidupanku berbeda, aku sudah menemukan tantangan terberat dalam hidupku walau rasanya tidak mungkin merubah dunia, aku harus mencoba sebisanya dengan cara menemukan benih-benih yang kelak akan lebih berguna daripada diriku sendiri dan dapat meneruskan perjuangan dari seorang anak laki-laki yang bodoh dan tak berguna ini.
Maka dengan cara masuk DKM aku bisa dapat ilmu islam jauh lebih dalam dan dapat mengamalkannya untuk suatu hari dimana akan ada hari kejatuhan dari setan-setan jin dan manusia yang menyesatkan seluruh umat manusia selama hidupnya.
Demi sebuah benih padi yang kelak akan bercahaya, selesai…
By:(A-Gar)